FILOSOFI SEBUAH MIMPI

Untuk mereka yang mempercayai Sebuah mimpi.Empat tahun lamanya,mimpi itu hanya akan menjadi mimpi dan tahun selanjutnya,kita dan Tuhan harus memutuskan untuk mengakhiri mimpi-mimpi itu,dengan sebuah langkah, secercah doa,dan juga proses yang akan mengantarkan mimpi-mimpi itu menjadi nyata.Maka,disinilah Sherina,memulai perjalanan dengan mimpi-mimpinya yang belum berakhir sampai disini,sampai hari ini bahkan,sampai detik ini.

                                               ***

Senja terlempar  dalam kumparan cahaya,menghiasi angan-angan dua anak nelayan yang berlarian menuju dermaga.Langit yang dihiasi burung gereja dan pesawat terbang menjadi saksi indah di cakrawala.

‘’Cepat Mahaka,apa kau tidak ingin melihat pesawat ku.?’’Dengan penuh semangat Sherina berlari sembari menunjuk pesawat terbang,yang sebentar lagi akan tertutup awan.

‘’Haha,Sherina,aku hanya ingin melihat kapal di ujung dermaga.Lagipula pesawat terbangmu itu sudah ditelan awan.’’Sahut Mahaka yang berjalan santai dan tertawa terpingkal-pingkal.

‘’Huh,dasar,bukankah pesawat terbangku lebih laju daripada kapal bututmu itu.?’’Sherina berhasil membalas ejekan temannya semasa kecil itu.

‘’Sudahlah Sherina,jangan bermimpi terlalu tinggi,aku bosan mendengarnya.’’Cetus Mahaka yang merasa jengkel.

‘’Hm,aku tidak akan berhenti sampai disini,Mahaka.Apa kau tidak ingat apa kata guru agama kita,H.Sholihin.Ia mengatakan bahwa semakin banyak kita berdoa,diibaratkan sebuah bibit tanaman yang kita semai dan dikemudian hari ia tumbuh, dan menghasilkan Bunga yang indah.’’ Percaya diri Sherina semakin tinggi untuk terus bermimpi.

‘’Baiklah,kalau begitu mari kita jemput mimpi kita.’’Timpal Mahaka yang tidak ingin mengecewakan kepercayaan diri teman semasa kecilnya itu.

‘’Mari,aku sudah tidak sabar lagi ingin naik pesawat,dan mengalahkan kapal bututmu itu.’’Menyenggol bahu Mahaka yang tampak asyik memandang langit.Mereka pulang menuju rumah yang tidak jauh dari dermaga.Sembari bersenda gurau dan menghasilkan tawa renyai dari keduanya.Cahaya jingga meninggalkan bekas yang mendalam pada saat mimpi-mimpi anak nelayan itu diucapkan,dan berharap langit juga berdoa untuk segera mewujudkannya.

***

Sinar mentari menyapa kampung halaman mereka,Kampung Bugis.Kampung yang menjadi tempat bernaung,penduduk yang ramah.Dimana tidak ada isak tangis para pengemis,jauh dari bau kota yang mengernyitkan dahi dan kepala.Hanya ada suara pompong,suara ombak kecil yang  menciptakan hempasan-hempasan pada perahu milik para nelayan.Keadaan yang begitu sederhana, melahirkan anak-anak yang bermental baja.Dan keadaan yang begitu manis,dimana seorang ibu masih pulang-balik berjualan dengan gerobak kesayangannya,dan anak-anaknya dengan setia menarik lengan baju ibunya dengan kucir rambut yang sedikit manja.

Suasana pagi dengan pemandangan yang begitu menyejukkan mata,membuat Sherina bergegas pergi kepasar untuk menjual kue buatan ibunya.Semua itu ia lakukan semenjak ibunya berhenti bekerja.Ia tidak pernah mengeluh sedikit pun,justru sebaliknya Sherina dengan penuh semangat menjajakan kue-kue milik ibunya kepada orang-orang di pasar.Sementara Mahaka,sibuk membantu ayahnya yang akan melaut untuk memancing ikan.Pagi ini Mahaka tidak ikut ayahnya melaut,dikarenakan angin yang kencang,sehingga ia tidak diperbolehkan ayahnya melaut bersama.Ini adalah rutinitas mereka berdua dikala pagi,sedang siangnya,mereka berdua bersekolah dan kembali lagi kerumah setelah sore menghampiri.

Sherina dan Mahaka sudah berteman sejak kecil,waktu itu Sherina yang baru saja pindah dari kota bersama ibunya,memutuskan untuk menetap dan tinggal di Kampung Bugis.Rumah Sherina dan Mahaka juga tidak terlalu jauh,hanya selisih lima langkah dari dermaga.Keduanya juga sudah sangat mengenal,dan saat ini mereka berdua tengah duduk di bangku dasar kelas 6,masa dimana mereka tengah sibuk menciptakan mimpi-mimpi mereka untuk djadikan tujuan dan semangat hidup.Semua orang mempunyai mimpinya masing-masing,termasuk Sherina yang sangat ingin naik pesawat terbang,setiap kali ia melihat pesawat terbang di cakrawala,ia selalu menyelipkan sebuah doa,agar ia bisa pergi ke luar kota dengan pesawat terbang impiannya.Mimpi Sherina adalah mimpi yang sederhana bagi orang-orang yang kaya,tapi mimpi itu adalah mimpi yang sangat tinggi bagi anak seorang nelayan seperti dia.

Samar-samar cahaya dari lampu penerang membayangi tubuh Sherina yang sedang termenung,menjuntaikan kakinya di belakang rumah,.Dan membayangkan jika kelak ia  menjadi orang yang sukses,dan bisa membahagiakan kedua orang tuannya.Dan seringkali pula Sherina bingung dengan keadaan keluarganya yang serba kekurangan,sementara Sherina merasa tidak memiliki kemampuan apapun untuk meraih mimpinya itu,sehingga ia selalu berfikir mungkinkah  mimpi nya hanya akan menjadi mimpi belaka,meski begitu,Sherina tidak pernah berhenti berdoa kepada Tuhan,agar kelak Tuhan dan dirinya bisa memutuskan untuk mengakhiri mimpi-mimpinya menjadi nyata.

Sherina adalah anak yang rajin,disaat anak-anak seumurannya sibuk bermain dan hanya bisa meminta uang kepada orang tua,lain halnya dengan Sherina,hari ini ia mencari uang sendiri dengan bekerja di PT Ketam tempat ibunya dulu pernah bekerja.Pekerjaan itu ia lakukan pada saat pagi hari setelah ia menjual kue milik ibunya.Disana Sherina bekerja bersama ibu-ibu yang juga bertetangga dengannya,ia tidak pernah malu dengan apa yang ia lakukan,jusru ia sangat senang bisa mencari uang sendiri tanpa harus menyusahkan kedua orang tuanya.

‘’Hm,Gaji pertama akan aku gunakan untuk membeli sandal jepit,sekaligus aku akan memamerkannya pada Mahaka.’’Ujar Sherina yang merasa sangat bahagia,setelah menerima gaji pertama dari pekerjaannya berupa uang Rp25.000 yang ia letakkan di dalam saku.Kemudian ia pulang dan segera membereskan diri.

Dikamar Sherina banyak sekali kertas kecil yang  bergantungan.Kertas tersebut berisi doa dan harapanya setiap hari.Dan setiap kali Mahaka datang kerumahnya,ia  selalu saja membaca kertas-kertas kecil itu tanpa sepegetahuan Sherina.Kadang kala Mahaka merasa sangat beruntung mempunyai teman seperti Sherina,karena doa-doa yang ia tulis di kertas kecil itu,tidak lain dan tidak bukan hanyalah tentang orang tuanya,saudara,sahabat dan harapan serta mimpinya yang ingin naik pesawat terbang.

   ‘’Beruntung sekali,aku mempunyai teman seperti dia.Hari-hari ia selalu menyelipkan doa untuk orang-orang disekelilingnya.Semoga Tuhan mendengarkan segala harapannya,amin.’’Ujar Mahaka dalam hati,sembari menggantungkan kembali kertas yang ia baca,dan bergegas keluar dari kamar,agar tidak ketahuan oleh Sherina.Tidak lama kemudian Sherina datang menemui Mahaka yang sudah menunggu diruang tamu untuk pergi kesekolah bersama.Keduanya Tampak ceria seperti biasanya,dimana Sherina selalu saja bernyanyi sepanjang jalan,dan Mahaka dengan setia mendengarkan suara merdu temannya itu.

***

Hari terus saja berganti,meninggalkan masa-masa yang telah berlalu,tetapi tidak dengan mimpi-mimpi mereka yang pernah diucapkan di ujung dermaga.Begitu juga dengan Mahaka dan Sherina yang saat ini sudah menduduki kelas 1 sekolah menengah pertama.Mereka berdua sangat menikmati masa-masa ini.Masa dimana mimpi-mimpi mereka akan diputuskan oleh Tuhan menjadi sebuah kenyataan.Sherina mendapatkan banyak peluang dan kesempatan untuk meraih mimpinya.Ia bekerja keras belajar dengan giat dan menekuni bidang ekstrakurikuler yang ia pilih yaitu Sastra.Seakan Tuhan telah memberi jalan untuk mimpinya yang selama 4 tahun ia gantungkan dikamarnya.Sherina tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan emas ini.

Sepulang sekolah,Sherina menyempatkan diri untuk pergi ke ujung dermaga,tempat dimana ia pernah bermimpi dulu.Tempat dimana ia berharap  langit juga turut mendoakannya.Ia juntaikan kakinya sembari merebahkan diri melihat pemandangan indah di cakrawala.Awan terlihat sangat cerah lengkap dengan burung gereja,dan pesawat terbang yang melintasi angkasa.

‘’Disini rupanya kau,Sherina’’Dengan nada yang sedikit mengejutkan,Mahaka menghampiri Sherina yang sedang melamun.

‘’Ia,Mahaka.Kau tahu,sudah lama kita tidak datang kemari,semenjak kesibukan kita bertambah setelah Un dan memasuki sekolah menengah pertama.Ada banyak yang aku rindukan,dan rindu itu membawaku sampai kesini.’’Ujar Sherina yang masih tetap memandang langit.

‘’Aku juga sangat merindukan tempat ini,seolah pernah terlupakan,padahal disinilah tempat kita kembali,setelah lelah mengejar mimpi.’’Mahaka yang kemudian duduk disamping Sherina.

‘’Aku tidak pernah lelah mengejarnya,sungguh.’’Ujar Sherina dengan santai.

‘’Baguslah,itu artinya kau masih sama seperti dulu.Oh iya.aku dengar kau akan mewakili sekolah kita dalam perlombaan Baca Puisi dan Cipta Puisi,apa itu benar.?’’Tanya Mahaka yang tidak sabar mendengar jawaban dari Sherina.

‘’Iya,lombanya akan dilaksanakan satu bulan lagi.Aku merasa tidak yakin,Mahaka’’Raut wajah Sherina berubah jadi sedih,setelah menjawab pertanyaan yang diberikan.

‘’Kau harus yakin,aku bersamamu.Bukankah itu jawaban dari semua mimpimu.Kau hebat,Sherina.Berlatihlah dengan sungguh-sungguh.’’Sejurus kemudian,Mahaka memotivasi Sherina yang merasa pesimis.

‘’Kau benar,bukankah pantang bagiku untuk menyerah sebelum berperang.Kalau begitu aku akan berusaha keras dan berlatih dengan giat.Aku ingin menjemput mimpi-mimpiku,Mahaka.’’Dengan semangat Sherina langsung berdiri dan berteriak.

‘’Nah begitu dong,itu baru Sherina yang aku kenal.Dengar,Sherina,kita hanya butuh proses untuk melangkah,berdoa,dan  selebihnya biar jadi urusan Tuhan yang menentukan apakah mimpi kita akan diwujudkan.’’Tegas Mahaka sekali lagi kepada temannya yang akan berjuang menggapai mimpinya.Keduanya masih saja menikmati pemandangan dihari yang cerah itu,sampai-sampai mereka lupa bahwa esok tidak bisa ditebak kebenarannya.

***

Kesempatan emas bagi seorang pemimpi,memang harus digunakan dengan sebaik-baiknya.Berlatih,bekerja keras,dan berdoa sudah sepatutnya dilakukan untuk mencapai suatu kesuksesan yang kita inginkan,tetapi hasil akhirnya tetap Sang Maha Kuasa yang berhak menentukan,dan hanya ialah saja yang mengetahui hari esok yang tidak bisa ditebak kebenarannya.

Satu bulan telah berlalu,datang menjemput dengan proses yang tidak terduga.Dan sampailah hari itu,dimana seorang anak manusia telah benar-benar siap menjemput mimpi-mimpinya,dengan sebuah langkah,secercah doa,dan proses yang akan menghantarkan mimpinya menjadi nyata.Sherina yang telah berlatih keras akan pergi memperjuangkan apa yang selama ini ia cita-citakan.

Berangkatlah Sherina ke tempat perlombaan,dan hal yang tidak terduga datang melanda.Nama Sherina tidak terdaftar diperlombaan sebagai peserta,sehingga ia dilarang memasuki ruangan dan sempat dimarahi oleh petugas satpam.Seakan Tuhan membuat takdir lain untuknya.Sherina lantas meminta pertolongan oleh gurunya,tetapi tetap saja pihak panitia tidak mengiyakan permintaan tersebut.Bagai disambar petir perasaaan Sherina hancur berkeping-keping tak terbendungkan.Beberapa  orang datang menemui panitia perlombaan untuk meminta permohonan agar Sherina di izinkan mengikuti perlombaan,tapi sayang,hal itu sia-sia belaka.Mendengar hal tersebut,bertambahlah kesedihan Sherina yang sudah berlatih pagi,siang,dan malam.Ia merasa Tuhan tidak lah adil terhadap dirinya.Sang guru mencoba untuk menenangkan Sherina yang sedang bersedih dan mengajak Sherina pulang.Tetapi Sherina tidak mengiyakan permintaan sang guru,ia tetap ingin berada disana,mengingat selama ini ia sudah berlatih mati-matian untuk mengikuti perlombaan.Ada perasaan tidak ikhlas di dalam dirinya.Sang guru kemudian pergi meninggalkan Sherina,bermaksud untuk memberikan waktu agar Sherina bisa menenangkan dirinya.

‘’Pak,perbolehkan saya masuk dan mengikuti perlombaan ini,saya mohon.Saya sudah berlatih dengan keras,pak.’’Dengan raut wajah yang sedih,Sherina kembali memohon.

‘’Maaf,dik.Kami tidak bisa melakukan hal itu,dikarenakan kebijakan dari panitia’’Ujar salah satu panitia yang berbadan besar.

‘’Saya mohon pak,perlombaan ini adalah jalan menuju mimpi saya,pak.’’

‘’Saya mohon maaf sekali lagi dik,tidak bisa’’Dengan segera panitia tersebut meninggalkan Sherina dan menutup pintu ruangan.

Hari yang benar-benar tidak bisa dibayangkan oleh Sherina membuat senyum dan kebahagiannya sesaat hilang.Setelah kembali memohon,Sherina tetap tidak ingin meninggalkan tempat itu.Sherina lantas duduk dan bersandar  dibelakang ruangan tersebut,ia menangis dengan tersedu-sedu sembari membuka kertas puisi yang telah ia persiapkan satu bulan ini.

‘’Jika aku tidak bisa mengikuti perlombaan ini,maka biarlah puisi ini aku bacakan disini saja.’’Sherina membaca puisi tersebut sembari menangis,ia merasa semua yang ia perjuangkan tidak boleh sia-sia,sehingga untuk terakhir kalinya,biarlah puisi itu ia bacakan meski ia tidak diperkenankan mengikuti perlombaan.

Tanpa disadari,ada seseorang yang mendengar ia menangis di belakang ruangan.Dan ternyata seseorang tersebut adalah salah satu juri dari perlombaan tersebut.

‘’Nak,mengapa kamu menangis.?’’Tanya seorang wanita mengejutkan Sherina yang tengah menangis tersedu-sedu.

‘’Begini bu,saya tidak diperbolehkan mengikuti perlombaan yang ada di dalam ruangan ini,karena nama saya tidak terdaftar.’’Sherina berusaha menjelaskan,meski sesekali ia menyeka air matanya.

‘’Kalau begitu masuklah bersama saya.’’Timpal sang juri,yang berusaha mengusap air mata Sherina.

kemudian masuklah mereka kedalam ruangan,semua panitia tampak kebingungan melihat juri tersebut membawa Sherina masuk kedalam.Ternyata perlombaan tersebut belum bisa dimulai karena menunggu kehadiran juri tersebut.

‘’Maaf ibu,mengapa ibu membawa anak ini masuk kedalam?’’Tanya seorang panitia.

‘’Saya yang membawanya kedalam karena saya ingin dia mengikuti perlombaan ini,jika tidak,saya tidak bersedia menjadi juri pada perlombaan ini.’’Tegas sang juri.

‘’Baik bu,akan kami laksanakan.’’jawab panitia yang lainnya.

Mendengar hal itu,betapa bahagianya Sherina,ia mengucapkan terimakasih kepada sang juri,karena telah membantunya.

Perlombaan pun dimulai,Sherina menjadi peserta terakhir yang akan menampilkan diri diatas pentas.Sesaat setelah Sherina turun dari pentas,semua orang bertepuk tangan.Sherina kembali bersemangat,ia merasa proses dari mimpinya sangatlah panjang dan berliku-liku.Dan tibalah saatnya pengumuman pemenang akan disampaikan.Dengan kehendak Tuhan Sherina menjadi juara pertama dan akan mewakili provinsi nya ke tingkat Nasional.Betapa bahagia yang dirasakan Sherina benar-benar tidak bisa ia ucapkan,hanya air mata yang mewakili semuanya.

Mimpi anak seorang nelayan, benar-benar diwujudkan oleh Tuhan,bagaimana pun tidak mudah menggapainya.Sherina berhasil menggapai itu semua,proses yang ia lewati benar-benar membekas didalam dada.Pada saat itu ia dan Tuhan telah memutuskan untuk mengakhiri mimpi-mimpinya,berkat sebuah langkah,secercah doa,dan proses yang mengantarkanya menjadi nyata.

Hari yang telah ditetapkan,dimana Sherina akan menaiki pesawat impiannya.Sesampainya di bandara,sujud syukur itu benar-benar ia lakukan dihadapan ribuan orang yang berlalu-lalang membawa tas dan sejumlah barang.Ia menitikkan air mata,dan tidak henti-hentinya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

‘’Terimakasih Tuhan,hari ini kau dan aku telah memutuskan untuk mengakhiri mimpi-mimpiku menjadi nyata.Dan perjalananku bersama mimpi-mimpiku  belum berakhir sampai disini,sampai hari ini,bahkan sampai detik ini.’’Dengan semangat,Sherina meng-eratkan tas yang ada dipunggungnya kemudian masuk kedalam pesawat impiannya.

                                                    ***

Memang benar,kita harus berani bermimpi dan setelah itu, kita harus berani pula untuk mengubahnya.Karena jika tidak,empat tahun lamanya,mimpi itu hanya akan menjadi mimpi.Sampai kita dan Tuhan  memutuskan untuk mengakhiri mimpi itu menjadi nyata.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *